Salah Satu Contoh Tidak Serius Melindungi Rakyat Adalah Krisis Kedelai

6 Aug

Image

Negara kita Indonesia terkenal sebagai Negara agraris, yaitu kondisi alamnya adalah mayoritas dapat dicocok Tanami untuk pertanian. Namun mayoritas 90% masyarakat petani selalu menjadi bulan-bulanan kaum pemegang modal alias kapitalis, terus apa yang didengungkan dalam UUD 45 pasal 33 telah lenyap oleh pragmatisme belaka. Organisasi-oragnisasi kemasyrakatan seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Dewan Tani Indonesia, dan lain-lain sebagainya, hanya sebagai tunggangan para politisi menjual ocehannya tanda program yang tidak ada kepentingannya dengan masyarakat petani.

Istilahnya petani hanya sebagai simbul dari orang-rang terpinggirkan, namun mereka diangkat dan disanjung saat maraknya PILKADA, Caleg, bahkan Pilpres. Salah satu contoh krisis kedelai adalah bentuk ketidakmampuan melindungi masyarakat yang nota bone menggunakan komoditi kedelai sebagai bahan pokok kebutuhan sehari-hari, seperti bahan pembuatan tahu dan tempe, minuman susu, obat-botan.

Kebutuhan kedelai Indonesia dalam satu tahun adalah 3.000.000 ton, Indonesia yang kini hanya mampu memproduksi kedelai 860.000 ton/tahun atau 30 persen dari 3 juta ton kedelai kebutuhan secara nasional per tahun, akan mampu memenuhi kebutuhan itu setahap demi tahap.

Perbandingan Untuk padi, peningkatan produksi dari tahun 2005-2011 hanya sebesar 21,4 persen, peningkatan produksi jagung sebesar 40,76 persen, ubi kayu (24,26 persen), ubi jalar (18,05 persen), kedelai (4,38 persen) dan kacang tanah (-17,17 persen).

Ini menunjukan bahwa petani Indonesia kurang berminat di komoditi kedelai, beberapa sebab sebagai indikatornya antara lain, bahwa perdagangan kedelai dikuasai kartel besar, biaya produksi lebih tinggi dari harga jualnya.

Peranan Badan Urusan logistic (BULOG) bisa mengendalikan harga di tingkatan petani, Pemerintah harus mendorong masyarakat petani menanam kedelai. Penghapusan bea masuk dan penyesuaian konsumsi hanya menjadi solusi jangka pendek. Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan, pemerintah harus realistis dalam menghadapi persoalan kekurangan pasokan kedelai sebab angka konsumsi yang per tahun mencapai 26 juta ton sangat jauh di atas produksi nasional yang hanya sekitar 600-800.000 ton.

Persoalan yang ada adalah kemalasan memproduksi dengan alasan biaya produksi tinggi, dan mementingkan pasokan import karena lebih menguntungkan sangat berdampak apabila Negara pemasok mengalami kesulitan produksi seperti di Amerika Serikat, Brazilia, China, Argentina.

Sementara Koperasi Pengerajin Tahu Tempe (KOPTI) sangat membutuhkan pasokan kedelai sebagai bahan baku pokok, belum lagi untuk minuman dan obat-obatan, bahan kecantikan dan lain-lain.

Kasian nasib petani kedelai yang terpinggirkan !!!

Sponsor :

Tertarik bikin warnet ? Klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: